Kamis, 22 Januari 2015

Happiness Giver

Bismillahirrahmaanirrahiim

Saya teringat dengan sebuah film inspirasi bikinan warga Thailand perihal “Unsung Hero”, dimana di situ diceritakan perihal sosok pemuda yang terus menerus berbuat kebaikan meskipun dunia tidak mengetahui siapa dia dan kebaikan apa saja yang ia perbuat. Pemuda tersebut tidak beranjak pamor, tidak tersohor, masih tetap dengan kondisinya yang miskin, tapi ia tidak pernah berhenti berbuat kebaikan. Rupanya hanya satu hal yang menjadikannya terus tergerak berbuat baik terhadap orang lain. Yakni emosi. Emosi atau kebahagiaan yang ia rasakan karena telah membuat orang lain bahagia. Saya ingin memberi istilah sendiri untuk hal tersebut : happiness giver

Saya yakin 100% di luar sana banyak sekali para happiness giver ini. Tapi bisa jadi banyak juga di antara mereka yang sudah meninggalkan dunia ini tanpa kita ketahui. Bisa jadi tipikal mereka memang tak berharap pamor maupun sohor. Cukup “emosi”yang ia harapkan. Selain itu, cukup.

Sekarang, saya ingin menceritakan secuil kisah dari salah satu binaan RZ (Rumah Zakat), dimana sedikit atau banyak saya pernah merasakan menjadi happiness giver yakni ketika memberikan permodalan usaha kepada salah satu binaan saya yang bernama Ibu Ponijem, meskipun sebenarnya bantuan ini juga bukan dari saya tapi dari para donatur.

Sebenarnya bagian menariknya bukan ketika proses pemberian modal usaha tersebut. Namun beberapa bulan sesudahnya. Ketika Ibu Ponijem bercerita perihal usaha bakpaonya yang sudah vakum selama satu tahun. Kemudian atas izin Allah SWT, beliau memperoleh sedikit dana dari donatur RZ untuk bisa memproduksi bakpao lagi. Alhamdulillah beliau bertestimoni bahwa produk bakpaonya bisa lumayan laris manis walau sudah vakum dan kehilangan pelanggan selama 1 tahun. Beliau merasa gembira. Tentunya saya juga, hehe.. Tapi tidak hanya itu. Selang selama 2 tahun bisnis bakpao Ibu Ponijem saya dampingi, ia bercerita tentang bagaimana ia sekarang sudah terbebas dari riba hutang bank koperasi (bank titil), bagaimana beliau saat ini juga sudah mampu menabung untuk memperbaiki tembok dapur yang dulunya terbuat dari besek dan sudah berlubang (konon karena belakang rumahnya dekat dengan sungai, sering ular masuk lewat situ), juga tentang karyawannya yang sekarang menjadi 5 orang.

Satu hal yang saya ingat terakhir saat Ibu Ponijem bercerita mengenai tetangganya seorang ibu muda yang ingin meminjam uang 100 ribu dari beliau guna modal produksi gorengan kecil-kecil. Ia teringat masa susahnya dulu. Sembari berkaca-kaca ia memberitahu saya bahwa akhirnya uang 100 ribu tersebut ia berikan cuma-cuma.

Kulo kelingan jaman kulo tasik susah. Pun niku arto 100 ewu kulo sukak’aken mawon. Kulo pun bersyukur, alhamdulillah sakniki usaha kula pun lancar (saya teringat jaman saya masih susah. Sudah saya berikan saja uang 100 ribu itu. Saya sudah bersyukur, alhamdulillah sekarang usaha saya sudah berjalan lancar)” ujar beliau.

Ibu Ponijem sekarang bahagia. Saya tentu ikut bahagia juga. Apalagi donatur yang telah membantu, tentu merasa lebih bahagia. Setelah saya renungi sepertinya bukan saya, donatur, atau orang lain yang lebih pas disebut happiness giver. Soalnya justru kita juga menjadi konsumen kebahagiaan.

Tak salah lagi, Allah SWT the True Happiness Giver..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar