Beberapa hari yang lalu kita mendengar perihal berita ditangkapnya para pelaku perampokan di bank CIMB Niaga di kota Medan, yang menurut dugaan polisi pelakunya adalah para teroris terlatih yang berasal dari kamp pelatihan rahasia di Aceh—dan kata Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) ternyata terbukti setelah pelaku perampok ditangkap. Berita ini cukup mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi ketika selang tak lebih dari 2 hari kemudian terdengar berita adanya penyerangan markas Polsek Hamparan Perak yang menewaskan tiga perwira Polisi. Diduga—lagi-lagi—bahwa pelakunya adalah dari kelompok yang sama, yakni kelompok teroris yang sengaja melakukan kejahatan tersebut guna memberikan semacam “pesan”. Entah maksud pesannya apa, dan entah untuk siapa pesannya. Jelasnya ketika berita ini semakin menghangat di media-media maka status “pesan” tersebut menjadi “sent to many” bila diibaratkan sms pada handphone. Konon pesan tersebut dijadikan semacam kode isyarat perang terhadap aparat. Akibatnya isu teroris kini lagi-lagi kembali menyeruak di Indonesia. Di antara semak-semak kebahagiaan di bulan syawal.
Saya ingin mengatakan bahwa bagaimanapun kita sebagai seorang muslim tidak boleh tinggal diam menyikapi isu yang berkembang saat ini. Sekali lagi kita harus tinggalkan “tinggal diam” tersebut. Kita harus memiliki sikap. Terutama bagi setiap individu. Boleh memilih dalam bentuk sikap seperti apa asalkan jangan diam saja dan jangan keliru bersikap. Kalau saya memilih mengambil beberapa sikap salah satunya adalah dengan menulis di sini. Menulis di sini dan berharap sikap saya dapat memberikan sedikit solusi.
Saya teringat sekitar kurang dari dua tahun yang lalu ketika terjadinya peristiwa tertembaknya Noordin M-emang Top (sengaja saya modifikasi namanya). Kala itu isu teroris benar-benar santer. Lebih santer daripada kasus ketika peristiwa bom bali di tahun 2002. Hampir di setiap media manapun ramai membicarakan tentang fenomena teroris ini. Saking ramainya hingga setiap media berlomba untuk mencari gaya bertutur yang berbeda terkait masalah teroris ini (soalnya kalau yang dibicarakan cuma beritanya saja tentu masyarakat akan blenger karena hampir semua media yang diomongkan itu-itu juga) hingga ada yang membuat beberapa acara segmen khusus terkait fenomena teroris. Ada yang mencoba mengangkat dari sisi sejarahnya, ada mengambil dari sisi tren-nya, dan lain-lain yang dimana ujung-ujungnya lagi-lagi kepada agama Islam. Waktu itu yang paling saya ingat sekali (sudah ada kata “paling” ditambah “sekali” lagi) adalah ketika sebuah televisi swasta menampilkan reportase khusus jaringan rekrutmen teroris di kampus-kampus, dan salah satu scene-nya menampilkan adegan ketika ada kegiatan mentoring agama Islam (waah.. padahal dulu saya sering sekali mengikuti kegiatan tersebut ketika di kampus). Entah apa maksudnya menampilkan adegan itu. Pastinya gara-gara sepotong adegan tersebut banyak orang tua yang merasa khawatir dengan kondisinya anaknya yang sedang ngampus atau ketika baru mau masuk ke kampus. Takut kalau anaknya direkrut jadi anggota teroris. Inilah yang disebut dengan penggiringan opini. Khawatirnya ini akan terjadi lagi sekarang.
Jelaslah teman-temanku sekalian bahwa diri ini tentu tak memiliki kemampuan membendung opini-opini yang tidak benar apabila harus berhadapan dengan media-media besar. Saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa: menjelaskan yang benar dan mengurai yang salah terhadap fenomena ini. Baik itu lewat tulisan di sini, obrolan dengan keluarga, percakapan di telepon, dan lain-lain. Tentu landasannya adalah kebenaran—dan kebenaran itu tidaklah bisa kita dapat kalau kita tidak memililki wawasan. Oleh karena itu kita harus banyak belajar tentang agama Islam kita tercinta agar bertambah wawasan kita (saya pun berdoa agar Allah swt berkenan menambah terus wawasan ke-Islaman saya). Sekali lagi kita harus mengambil sikap. Terutama bagi setiap individu.
Ya Allah saya tidak ingin lagi terulang kejadian dimana ketika aparat melansir ciri dari para teroris ideologis bahwa mereka suka menangis ketika membaca Al Quran, maka banyak dari hambaMu yang takut untuk meresapi keindahan KitabMu karena takut menangis dan disangka teroris. Ya Allah saya berharap tidak akan terulang lagi, gara-gara media yang gencar mengungkit-ungkit terorisme banyak dari umatmu yang urung ke masjid meskipun hati mereka sangat merindukannya. Ya Allah Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mampu melindungi kami dari segala fitnah.
Ya Allah semoga apa yang saya lakukan, berikut temam-teman yang juga berusaha untuk menjaga agamaMu ini, mendapatkan ridho dan pahala dari Engkau. Ya Allah terimalah amal-amal kami.
18 Syawal 1431 H / 27 September 2010
Senin, 27 September 2010
Isu Terorisme, Tinggalkan “Tinggal Diam”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar