Rabu, 15 September 2010

Menjadi Superman setelah Ramadhan : Refleksi Syawal yang Jangan Sampai Terlupakan

Masih ingat iklan salah satu provider nomor GSM di bulan Ramadhan yang bercerita tentang “Pahlawan Pembangun Sahur” kemarin kan? Memang mirip superman sih, tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini—meskipun iklan tersebut juga menjadi salah satu inspirasi saya menulis di sini. Lebih pada bulan syawal ini tentunya. Lebih pada apa yang terjadi pada diri kita setelah 240 jam meninggalkan Ramadhan.

Saya masih terngiang kata-kata da’i kondang KH Zainuddin MZ beberapa waktu kemarin ketika mengisi ceramah di program acara TV ONE. Beliau yang saat ini menurut saya lebih komunikatif dan interaktif terhadap audiens daripada beberapa tahun lalu, menyebutkan nama bulan Ramadhan sebagai bulan training. Adapun istilah training ini lebih merujuk kepada latihan, barangkali semisal latihan berat ala tentara dan pasukan elit sejenisnya, daripada kata training yang identik dengan acara emosional plus full inspiration dengan di satu sisi kadang fun selayaknya ESQ-nya Ary Ginanjar. Ya teman-teman, kata training yang identik dengan latihan berat, penuh konsentrasi, disiplin, dan hampir-hampir tidak bisa memikirkan hal apapun selain latihan itu sendiri. Training yang hanya bisa dilalui oleh seorang yang benar-benar ingin menjadi superman...

Eit, jangan terburu mengatakan saya terlalu berlebihan. Ya saya mengerti bahwa mungkin definsi yang disampaikan Pak Zainuddin tidaklah se-ekstrim saya (apalagi yang mendengarkan ceramah beliau waktu itu kebanyakan juga bapak-bapak yang cukup berumur), tapi justru di situlah saya ingin mengambil ‘sedikit’ perbedaan karena memang definisi training tersebut cukup luas. Cukup luas untuk saya hubungkan dengan karakter khas para manusia visioner. Manusia visioner yang memiliki cita-cita besar, yang memiliki mimpi-mimpi luar biasa selayaknya Ikal dan kawan-kawan dalam film Sang Pemimpi, yang bisa jadi masih memiliki potensi jauh lebih besar daripada bapak-bapak yang menjadi audiens-nya KH Zainuddin MZ tadi.

Saya berharap saya dan kita semua di sini sudah memahami bagaimana seharusnya ber-Ramadhan. Kalau merujuk pada program harian, barangkali seperti ini: bangun tengah malam untuk sholat Tahajud, setelah itu makan sahur. Sehabis sahur menunggu Shubuh sembari tilawah atau tafakur. Setelah sholat Shubuh tidak tidur melainkan mengerjakan hal-hal yang mungkin lebih efektif jika dikerjakan waktu itu seperti belajar. Paginya hingga sore hari mengisi dengan aktivitas harian dengan berusaha semaksimal mungkin terhindar dari sikap-sikap useless (seperti marah, ngerasani, omong kosong, omong kotor, dan sebagainya). Sore hari juga ada aktivitas sebelum berbuka semisal silaturrahim buber atau ikut pengajian. Ba’da berbuka kemudian persiapan diri untuk sholat tarawih. Ketika sholat tarawih selesai, sebelum tidur mengerjakan beberapa pekerjaan yang menjadi deadline serta tak lupa mengevaluasi kegiatan selama sehari ini untuk dicocokkan dengan rencana jangka panjang kita dalam life planning dan life mapping yang sudah kita buat.

Hal di atas sepertinya mudah tapi ternyata tidak semua orang bisa melakukan secara istiqomah. Padahal justru di situlah letak nilai training yang dimaksud. Latihan yang kemudian melahirkan karakter permanen. Sekali lagi karakter permanen. Karakter disiplin, karakter yang spritualnya selalu hidup, karakter yang identik dengan perilaku usefull dan bukan useless. Karakter yang dimiliki oleh para tokoh besar. Karakternya manusia visioner. Karakter milik orang biasa yang ingin menjadi orang sukses.

Sekarang “Bulan Training” tersebut telah berlalu. Tinggal sekarang mengecek apakah karakter tersebut sudah melekat pada diri kita. Jika ada, maka saya yakin minimal 90% cita-cita kita akan tercapai. Sebab berdasarkan penelitian seseorang bisa sukses hanya dengan meniru perilaku (baca: karakter) orang-orang sukses.
Sedikit koreksi tentang istilah “superman”, saya berharap jangan pernah sedikit pun pikiran kita terpatok pada kata tersebut. Itu hanya sebagai judul saja biar menarik (he.. he..) karena setahu saya superman hanyalah tokoh khayalan yang tidak pernah berlatih atau ikut training.

Sebagai penutup saya ingin mengajak kita semua berdoa agar dapat disampaikan lagi di bulan Ramadhan berikutnya. Sembari menunggu Ramadhan tersebut tidak salah juga bila untuk bulan-bulan kedepan ini kita coba untuk ber-training sedikit-sedikit (terutama bulan syawal ini). Ya bisa dibilang warming up-lah.

Malang, 5 Syawal 1431 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar