Berawal dari obrolan ringan seputar hutang bersama pelaku bisnis mikro.
Kerapkali kita mendengar cerita tentang orang yang terlilit hutang baik yang berakhir tragis maupun happy ending dimana kedua-duanya sama-sama mengandung buah hikmah yang layak untuk menjadi bekal kita menjalani kehidupan. Namun kali ini saya ingin sedikit mengurai pada kasus hutang yang lahir dari tuntutan lifestyle, bukan pada kebutuhan yang mendasar dan mendesak.
Hampir dari setiap banyak cerita menyebutkan, hutang yang terjadi secara akut dan dalam rangka memenuhi kebutuhan gaya hidup hampir mayoritas berakhir menyedihkan. Seperti kisah beberapa artis, yang konon ketika akhirnya dia bunuh diri atau masuk penjara karena melakukan bisnis gelap. Penyebabnya bukan lantaran ia terlalu miskin sehingga berhutang, namun karena gaya hidup dia yang kaya-lah yang menyebabkan ia berhutang. Kebanyakan karena hal-hal yang tidak esensial. Mayoritas hanyalah faktor want bukan need. Contoh seperti mobil mewah dengan merk tertentu yang sebenarnya bisa ia dapatkan pada model yang jauh lebih murah dengan fungsi yang tidak jauh berbeda. Hutang tipe ini adalah hutang yang memiliki tingkat resiko gagal bayar dan gagal bahagia tingkat tinggi.
Barangkali kita sebagai manusia yang pastinya akan selalu mendapatkan ujian selama hidup di dunia perlu lebih memahami bahwa Allah SWT itu pasti sangat tahu akan kebutuhan kita. Sangat tahu selayaknya Dia juga sangat bisa memenuhinya. Permasalahannya adalah pada tiga hal : 1) Apakah kita yakin akan terpenuhi kebutuhan kita, 2) Bagaimana cara kita mendapatkan kebutuhan tersebut. Terkait cara, beberapa orang mungkin akan mengambil cara dengan berhutang meskipun cara terbaik tetaplah dengan menabung, dan 3) Kapan terpenuhi kebutuhan kita tersebut. Maka poin kapan inilah yang bagi saya merupakan bab yang sangat menentukan dan krusial. Sebab dengan mengetahui kapan kita membutuhkan, segala jawaban akan keputusan (berhutang atau tidak) harus sudah tercetus.
Selain intuisi, kebutuhan untuk memutuskan berhutang atau tidak juga bisa kita lihat pada kondisi yang kita alami. Jikalau pada saat itu kebutuhan akan sesuatu begitu mendesak dan sebelumnya kita telah berusaha menahan-nahan agar tidak berhutang, maka bisa jadi itulah saat terbaik memutuskan. Malah lebih baik lagi bila saat masa-masa “menahan diri” tersebut kita juga giat menabung. Hal ini ditujukan agar memperkecil resiko dengan memperkecil besaran nilai hutang kita atau bahkan kita tidak perlu berhutang sama sekali karena uang tabungan kita telah cukup. Oleh karena itu perlu kiranya kita mengetahui dengan pasti apa kebutuhan kita di masa mendatang.
Dua kata kunci menyikapi tawaran hutang: kebutuhan dan tabungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar