Senin, 07 November 2016

Semua Tak Boleh Sama (Seri ke-2 Pemberdayaan Ekonomi)

Masih terkait dengan artikel sebelumnya yang membahas tentang “kapan kita harus berhutang?”, di sini saya ingin mengutarakan tentang satu hal yang umumnya dikenal dengan istilah memantaskan diri

Memantaskan diri, dalam konteks bisnis mikro, adalah satu dari sekian kaidah yang sejauh pengamatan saya banyak tidak diketahui oleh mereka yang bergelut di bisnis kaki lima. Padahal jika seseorang ingin merasakan perbaikan taraf hidup, sudah barang tentu ia harus berusaha supaya pantas untuk naik kelas. Alasannya? Karena tidak mungkin nasib berubah menjadi lebih baik jika seseorang melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Dulu maupun sekarang sama saja. Mulai dari cara menjual, cara memperlakukan karyawan, strategi operasional, dan semacamnya. Padahal tidaklah boleh semua sama. Mengacu pada anjuran Nabi Muhammad SAW, bahwa seseorang rugi jika keadaannya hari ini sama dengan hari kemarin.

Lalu apa hubungannya “memantaskan diri” dengan “kapan kita harus berhutang?” Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita menggunakan ilustrasi pedagang soto yang merasa bahwa cara untuk membuat nasibnya lebih baik, menjadikan omsetnya lebih naik, adalah dengan strategi menambah gerobak bakso. Ia harus membuat dirinya pantas “mendapatkan lebih” dari sebelumnya. Nah, di titik inilah ia mulai bisa merasakan kebutuhan itu. Kebutuhan untuk memenuhi sarana usaha dengan cara berhutang.

Maka dari itu andai seseorang mengerti tujuan utama dari berhutang, sudah barang tentu ia akan menjadikan “kegiatan memantaskan diri” sebagai alasan utama di antara alasan-alasan lain. Supaya ia pantas mendapatkan rezeki yang lebih besar lagi. Agar usaha mikronya pantas mendapat omset usaha skala kecil. Lalu usaha kecilnya pantas mendapatkan take home pay usaha menengah, dan begitu seterusnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar