Barangkali ketika membaca judul di atas ada yang merasa dengan sekelabat bahwa itu adalah salah satu dari sekian kalimat “picisan” yang kerap lahir dari para pecinta sensitif, yang teramat senang dengan puisi, dan tak jarang mengisi sebagian besar dari nafas hidupnya dengan kalimat-kalimat yang bernyanyi—atau mungkin memang suka bernyanyi dalam arti sesungguhnya—yang telah terasah hatinya oleh kesekian pengalaman cinta yang gagal dan terbiasa dengan cinta “Sayap-Sayap Patah”-nya Kahlil Gibran.
Sebenarnya saya ingin menulis judul di atas dengan “Mengharap Dicintai Tak Lagi Relevan”. Namun karena kalimat tersebut terkesan seperti artikel pemikiran selayaknya di koran-koran, maka saya coba cari judul lagi yang agak nyastra (meskipun ternyata saya juga kesusahan membuatnya hingga pada akhirnya muncul judul seperti di atas). Ya, memang saya sengaja ingin mengulas tentang salah satu dari sekian fenomena abadi—yakni cinta—dengan ulasan khusus pada bagian “tak harap dicinta” tersebut, dengan inspirasi yang memang berasal dari Bang Anis Matta, si penulis Serial Cinta.
Kita awali ulasan kita ini (eh.. kok terkesan formal banget ya?) dengan sedikit pembahasan pada aktivitas pacaran yang kerap dilakukan oleh orang-orang dari segala umur, mulai dari anak SD hingga bapak-bapak di atas 50 tahunan. Namun di sini saya hanya membatasi pada aktivitas pacaran yang dilakukan oleh para kawula muda, yang menurut saya “lebih serius” dalam menjalin hubungan—bukan pada pacaran ala anak SD yang identik dengan “Monkey Love” atau pada pacaran ala kakek nenek yang terkesan “Gorilla Love” (eit jangan terpancing dengan kata Gorilla Love karena ini murni bikinan saya sendiri hehe...).
Saya sering menemukan bahwa dari kesekian banyak alasan dari putusnya seorang cowok dengan cewek adalah karena adanya ketidakcocokan yang ujung-ujungnya adalah sudah tidak ada saling pengertian di antara mereka, yang berarti bahwa si cowok tidak mau mengerti dan memahami kalau ceweknya “maunya begitu” sedang si cewek juga tidak mau menggubris keinginan si cowok yang “maunya begini”. Padahal aktivitas pacaran mereka dasarnya dibangun karena suka sama suka, dan secara otomatis “harus” saling memberi. Sebab kalau mereka tidak mau saling memberi, bisa dipastikan hubungan mereka bakalan hancur dengan cepat. Selanjutnya di sinilah permasalahannya, kenapa setiap orang yang pacaran selalu ingin ada proses saling memberi? Atau dengan kata lain, tidak ada cinta lagi jika salah satu pihak berhenti memberi? Atau dengan kata lain lagi, tidak ada cinta jika salah satu pihak tak lagi mencintainya?
Sahabat sekalian, rupanya banyak yang lupa dengan salah satu bentuk aktivitas cinta lain dimana di sini lebih banyak proses “mencinta”-nya daripada “dicintai”-nya. Ya, itu adalah aktivitas cinta ibu pada anak. Cinta yang dalam lagu sering kita dengar dengan “hanya memberi tak harap kembali”. Hanya mencinta, tak harap dicinta. Dan disini cinta yang diberikan adalah cinta yang menumbuhkan, cinta yang mengubah dari baik menjadi lebih baik, dan cinta yang penuh kemanfaatan. Lalu apakah cinta seperti ini tidak bisa bila kita kaitkan dengan cinta kepada lawan jenis? Jawabannya adalah bisa.
Tentu kita menyadari bahwa cinta ibu dan cinta istri atau suami itu berbeda. Karena istri/suami kita bukanlah ibu kita. Jelas. Namun, perbedaan itu sebenarnya terletak pada “cara mencintainya”, sedang yang lainnya sama. Termasuk dalam hal memberi dan tak harap kembali. Termasuk dalam hal cinta yang menumbuhkan, cinta yang menjadikan baik menjadi lebih baik, dan cinta yang penuh kemanfaatan. Cinta seperti itu memang ada, dan ini bukan picisan. Fokusnya adalah memberi dan terus memberi sehingga orang yang kita cintai tersebut menjadi lebih sehat, lebih bersih, terpenuhi kebutuhannya, menjadi lebih cerdas, menjadi pribadi yang lembut, dan menjadi semakin bahagia karena kita. Sebaliknya, kita pun menjadi bahagia karena melihat orang yang kita cintai bahagia. Bukankah seorang ibu juga akan berlaku demikian? Maka kalau kita kembali kepada konteks pacaran kira-kira bisa tidak konsep cinta di atas kita terapkan? Jawabannya silakan dipikir sendiri ya... (hehe..)
Namun apapun itu yang jelas meskipun niat mencinta kita memang tidak mengharapkan balasan, kaidah alam selalu mengatakan selalu ada cinta untuk orang yang berani mencintai dengan sesungguhnya. Seorang ibu meskipun tak harap kembali dalam mencintai, kebanyakan akan tetap menerima cinta dari anak-anaknya karena ketulusan yang ia patri. Seorang istri juga pasti akan dengan sangat rela memberikan cintanya untuk suami yang senantiasa memberikan cinta yang hidup. Andaikan jika memang sang pencinta tersebut tidak mendapat balasan dari objek cintanya, pasti akan mendapat balasan cinta dari yang lain—entah dari siapa, dari mana, atau dari apa. Karena dunia memiliki begitu banyak cinta untuk diberikan kepada orang-orang yang dengan tulus mencinta...
Ketika kau harap keramahan cinta
Tak pernah kau dapat.. Ya sudahlah...
( “Ya sudahlah” by Bondan feat 2 black)
10 Dzulqaidah 1431 H / 18 Oktober 2010

What's up friends, nice piece of writing and nice arguments commented here, I am genuinely enjoying by these. paypal login
BalasHapus
BalasHapusThat is a great tip especially to those fresh to the blogosphere. Brief but very precise information… Many thanks for sharing this one. A must read post! netflix.com login
After that term, the borrowed funds is re-negotiated for another five years, with loans typically by using a 25-year amortization schedule. mortgage payment calculator canada It normally takes around 93 days or 3 months from application to closing. canada mortgage calculator
BalasHapus