Semenjak saya tertarik dengan dunia sosial (perkiraan mulai tahun 2005) saya jadi semakin penasaran akan adanya rumus dalam kehidupan manusia.
Maksudnya bahwa dalam kehidupan ini memang semua berjalan sesuai rumus, sesuai sistem. Kalau kita melakukan A maka hasilnya B. Hanya saja bila dikaitkan dengan dunia sosial, bisa jadi tidak mudah dipastikan bahwa jika kita melakukan A maka hasilnya adalah B. Misal jika kita senyum pada seseorang belum bisa dipastikan bahwa orang tersebut membalas senyum kita (sakitnya tuh disini..hehe).
Namun tetap saja saya meyakini bahwa rumus itu pasti ada. Pola dalam kehidupan sosial pasti ada. Malah banyak juga para ilmuwan yang membaktikan kehidupannya untuk riset perihal dunia sosial. Apalagi di dalam Al Quran juga banyak disinggung hal-hal mencengangkan dalam ranah sosial, seperti sedekah yang ternyata tidak pernah membuat orang miskin, jodoh wanita solehah yang PASTI akan mendapatkan lelaki soleh, perempuan keji ya berjodoh dengan lelaki keji, dan lain-lain. Oleh karena itu kita harus banyak sekali belajar. Ya.. belajar dari pengalaman, dari riset, dari jurnal ilmiah, serta berbagai referensi lainnya. Intinya harus berusaha memahami pola tersebut agar bisa menghasilkan “sesuatu” yang kontributif secara sosial. Lebih mudahnya saya menyebut “sesuatu” itu sebagai Gerakan Sosial. Sekarang saya ingin sedikit menyinggung salah satu jenis gerakan sosial yang menarik untuk dibahas. Izinkan saya menamainya dengan charity movement.
Kita sering melihat banyak pihak, baik perorangan maupun komunitas, yang melakukan aksi semacam pembagian sembako, berbuka untuk anak yatim, dan yang lainnya. Aktivitas ini biasanya bersifat giving. Sensasinya sungguh membahagiakan. Melihat senyum orang-orang yang kita bantu. Keceriaan anak-anak kecil atas sumbangan baju baru dan lain sebagainya. Namun sensasi kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Seiring dengan selesainya aktivitas charity movement tersebut, maka kehidupan akan berlangsung seperti biasanya. Pemberi bantuan kembali melakukan aktivitas kesehariannya dan sang penerima manfaat akan kembali kepada kehidupannya yang papah dan miskin. That’s all?? Ya itu saja..
Tidak perlu dibahas kalau terkait masalah pahala. Sudah tentu Allah SWT telah menjanjikan balasan yang berlipat ganda. Apakah kegiatan Charity Movement ini “t keliru”?? Ya tidak juga, sudah bersyukur semakin banyak orang yang peduli dan berbagi, hehe.. Namun harus kita akui bahwa di luar sana ada banyak fakta yang perlu diwaspadai. Salah satu fakta yang paling penting adalah bahwa kerap para dermawan selalu mengunjungi tempat dimana mayoritas masyarakatnya miskin. Wajar, karena cara itu lebih mudah. Bahkan para dermawan itu juga rata-rata orang sibuk. Namun tahukah bahwa wilayah yang sudah terkenal sebagai kampung miskin, juga kerap didatangi para dermawan yang lain. Artinya orang yang diberi bantuan ya itu-itu saja.
Fakta selanjutnya adalah bahwa selama bertahun-tahun daerah miskin yang sering dibantu tersebut juga tetap miris kondisinya. Kenapa? Ya karena warganya tetap malas dan sudah merasa enak dapat bantuan terus menerus. Atau malah justru sengaja “tampil miskin” supaya bantuannya tidak berhenti. Tidak aneh karena untuk mereka miskin itu bukan hanya tampilan fisik. Tapi miskin itu adalah mental mereka. Mental yang selalu ingin disuapi dengan pelbagai jenis bantuan. Wah, kok begitu? Jadinya bantuannya tidak bermanfaat dong? Jawabannya tetap bermanfaat. Akan tetapi kita harus sedikit berupaya keras menciptakan format charity movement yang lebih memiliki dampak jangka panjang dan berkelanjutan (suistanable). Tentu agak ribet, namun ketika sudah berjalan maka dampaknya akan meluas. Contohnya seperti apa? Banyak, yang kita ketahui misal uang kita digunakan untuk membeli kebutuhan alat program bank sampah, alat-alat usaha untuk para dhuafa, membiayai kegiatan pelatihan remaja kurang mampu, dan semacamnya.
Masalah pahala? Wah kalau yang ini malah jangan diragukan lagi. Selain balasan berlipat ganda, pahala akan terus mengalir sampai kita mati insya Allah. Karena contoh di atas itu merupakan amal jariah. Manfaat ke orang? Sudah barang tentu jaaauuuhh lebih memberi manfaat. Semisal contoh jika kita memberi bantuan komputer untuk seorang fakir agar bisa membuka jasa pengetikan, maka jika bisnisnya jalan, selain manfaat pendapatan untuk dirinya sendiri kira-kira siapa lagi? Anaknya, istrinya, mertuanya, bahkan bisa jadi jika berkembang terus akan memberi manfaat ke puluhan atau ratusan karyawan. Padahal yang kita beri cuma komputer satu buah! Masya Allah. Maka sudah saatnya kita geser charity movement ini ke arah empowering movement. Kalau saya analogikan program reality show di TV maka : dari “Orang Pinggiran” ke “Merajut Asa” hehe.. It’s time to sociopreneur.

ayooo posting terus mas bro....nice writing
BalasHapus