Kata sebagian orang harga bisa berlaku sensitif pada kalangan kelas ekonomi bawah. Menurut mereka, sangat riskan jika harus mengambil keputusan menaikkan suatu harga. Salah satu resikonya adalah pada tingkat penjualan produk yang menurun. Konsumen, masih dari hemat mereka, cenderung akan mencari produk alternatif lain atau bahkan menahan pengeluaran. Masuk akal juga, walaupun hal ini tidak berlaku untuk produk strategis, seperti sembako dan bahan bakar minyak (BBM) di mana meski harga naik, mereka akan tetap berusaha mencari segala cara untuk membeli.
Latar belakang bahasan ini adalah ketika—lagi-lagi—saya berdiskusi dengan salah satu binaan mikro RZ Malang, yang memang sejak berpuluh tahun telah berjualan bakso pada kelas ekonomi menengah bawah alias dari kampung ke kampung. Beliau menyampaikan bahwa pilihan untuk menaikkan harga masih menjadi dilema meskipun kebutuhan bahan baku serba naik. Salah satu penyebab dilema tersebut tidak lain adalah pada kekhawatiran jika tingkat penjualan menurun atau malah tidak laku. Pilihan yang diambil tak jarang adalah tetap bertahan pada harga lama, dengan konsekuensi berkurangnya margin yang bisa dinikmati oleh pelaku usaha mikro. Sungguh amatlah berdarah-darah namanya. Berdarah-darah akan suatu hal yang sebenarnya belum ada landasan teori—yakni perihal hilangnya pelanggan karena harga naik—dimana bisa jadi semua itu ternyata cuma mitos.
Dewasa ini kita tentu menyadari bahwa dunia itu berubah. Baik dalam lingkup paling sempit hingga lingkup paling luas atau global. Salah satu perubahan itu adalah pada perilaku konsumen.
Berbicara terkait perilaku konsumen, rupanya saat ini banyak pelaku bisnis yang telah menyadari bahwa konsumen itu pada dasarnya cenderung setia. Sekali lagi setia. Pada apa? Pada produk, pada jasa, bahkan pada merek. Saking setianya, bahkan mereka rela menerima kenyataan harga barang kebutuhannya naik. Ternyata mereka sama sekali tidak sensitif pada harga. Kok bisa? Ya tentu bisa. Asal perusahaan atau pelaku usaha itu telah memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Yup, the best service. Tidak peduli apa konsumen ini dari kalangan ekonomi bawah atau kalangan ekonomi atas, pokoknya kalau sudah merasa mendapat the best service ini, sebagian besar ia akan lebih memilih setia.
Selanjutnya, pelaku usaha mikro tinggal melakukan action agar mitos itu segera runtuh. Bahwa orang kampung juga bisa setia. Entah itu pada produk bakso, soto, tahu sumedang, dan lain-lain. Harus yakin bahwa selama HARGA YANG KITA NAIKKAN ITU WAJAR dan mampu memberikan layanan terbaik, maka tidak perlu takut kehilangan pelanggan. Justru pelanggan-lah yang seharusnya takut kehilangan pelaku usaha yang the best seperti kita ini.. hehe..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar