Selasa, 06 November 2018

Saat pagi adalah semangat dan senja adalah damai

Dada selalu merasa sesak dan mata mulai menghangat lantaran air yang melinang dari dalamnya manakala melihat (entah yang keberapa kalinya) video dari para korban konflik di Suriah maupun Palestina. Membayangkan rasa sakit pada tubuh yang terluka dan rasa sakit pada jiwa yang takkan lagi berjumpa dengan orang terkasih yang telah tiada. Mungkin rasa sakit kehilangan jauh lebih pedih. Takkan lagi melihat senyum bayi kita, ayah kita, ibu kita, istri kita, suami kita, dan semua orang tercinta.

Lalu harus dengan apa kita menyembuhkan lara yang menganga itu? Atau pada siapa kita harus mencurah ledakkan kesedihan yang telah mendesak sakit dada kita? Seandainya ada tangis yang membantu reda, tapi harus bagaimana manakala telah kering air mata? Sakit itu barangkali terasa berjuta hingga hampir tiada rasa.

Bagaimanapun mungkin ini adalah ujian mahadahsyat bagi saudara kita yang ketangguhan hatinya tiada kita kira. Ya Allah, Engkau telah memberikan takdir seperti ini. Takdir yang memanggil-manggil nurani manusia walau ujian kemanusiaan bukan dia yang merasa. Nurani yang selalu terpaut dengan manusia dengan irama iman yang sama.

Nun jauh di sini, yang terbentang jarak dengan bumi Palestina dan Suriah di sana, terhirup aroma tenteram dan bahagia. Masih banyak tawa di sini.. terlebih lagi canda. Betapa ingin sekali saudaraku yang di sana bisa merasakan apa yang aku rasa. Kala jenak telah menjadi berjuta. Saat pagi adalah semangat dan senja adalah damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar