Minggu, 12 Juli 2020

HIKMAH DAN PERENUNGAN

Hikmah? Apa itu hikmah? Kerap kali kata ini muncul dari lisan yang menghendakkan bijak. Biasanya anjuran memetik hikmah muncul manakala seseorang baru saja mendapatkan kenyataan pahit semacam musibah.

Maka kembali tanya ini menyala apa itu hikmah? Maka terjawablah ia bahwa hikmah itu adalah ilmu. Suatu kata yang maknanya lebih tinggi daripada kata pelajaran. Mengapa ilmu? Karena ia akan menjadi pengetahuan yang bercahaya dalam benak. Ada ilmu di dalamnya yang mampu membuat kita lebih bijak. Lebih dari itu bahkan kitanya bisa menghebat lantaran ilmu.

Wajar pula bila hikmah tidak semudah itu direngkuh. Juga tidak semudah itu dipetik. Perlu syarat dalam meraihnya dimana diantaranya adalah dengan tafakur. Sebuah proses yang tersuasana dengan ketenangan bahkan keheningan. Sebab hikmah itu ibarat ikan yang tak akan mudah terpancing dalam riak. Dibutuhkan keteduhan sikap manakala manusia mempunyai asa untuk mendapatkan hal yang berharga bernama hikmah.

Hikmah dan tafakkur. Hikmah dan perenungan. Hikmah selaiknya ikan, dan perenungan laksana pancing yang menjadi jodohnya sang ikan.

Rabu, 27 Mei 2020

CORONA DAN LEBARAN DARING (ZOOM)

Tidak hanya satu namun banyak himbauan terkait untuk mengganti silaturrahim offline menjadi online..

Meski masih saja ada yang silaturrahim door to door dengan kaidah physical distancing, namun sepertinya bagi para perantau jauh lebih banyak yang bertatap lewat video call atau bahkan aplikasi ekslusif yang lagi viral yakni Zoom..

Rupanya lumayan seru juga memenuhi ruang kosong rindu dengan cara ini.. bahkan banyak juga yang menjadikan tampilan elegan ala Zoom ini menjadi video tiktok atau poster (seperti yang kami lakukan secara amatir hehe..)

Begitulah ruang kreasi freewill pemberian Tuhan.. kala dia dibatasi terkadanga malah ia menjadi semakin tak terbatas..

Taqobbalallahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum..

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah, semoga Allah SWT mempertemukan lagi kita dengan Ramadhan tahun depan.. aamiin 🤲🏼

Senin, 14 Januari 2019

PAYUNG

Tugas payung itu jelas, bukan untuk menghentikan hujan, melainkan untuk melindungi orang dibaliknya..

Hujannya sndiri kemana? Ya dia jatuh mengalir ke tempat dimana dia sedang ditunggu-tunggu (mungkin ditunggu padi, ditunggu hewan air, dan lain-lain). Karena sejatinya hujan itu rahmat (baca : rejeki).. 😃

Pada dasarnya semua yang ada di skitar kita adalah rejeki. Namun tidak semua orang bsa menerima rejeki tersebut. Tergantung kebutuhan dan mungkin keinginannya.. seperti hujan yg mungkin bagi beberapa pelancong belum dibutuhkan sebagai rejeki hehe..

Seperti pula kisah Abdurrahman Bin Auf RA, yang bersedih atas rejeki melimpah (dari hasil penjualan kurma kering) lantaran bakal lama dihisab saat yaumul akhir.. Masya Allah..

Selasa, 06 November 2018

LUPAKAN VISIMU!!

Hampir lelah.. hampir jatuh diri ini.. bila separuh semangat tiada di sisi..

Begitulah bait pertama dalam lagu “Bukan Mudah” yang dinyanyikan oleh Nukilan (vokalis) dan Malique (rapper) asal Malaysia. Kebetulan lagu ini juga sudah dicover oleh Ibnu The Jenggot, rapper asal Bandung. Memang bait pertamanya sengaja saya ambil karena dirasa sesuai dengan tema yang akan saya tulis hehe..

Ini memang tentang motivasi. Tentang sebuah hal yang sering dicari-cari oleh mereka yang mendadak lunglai. Entah lunglai karena kehilangan ataupun linglung karena terhantam oleh kenyataan. Manakala semua terlihat seperti tiada arti, tiada emosi, tiada ambisi untuk meraih visi. Padahal visi tidak boleh dibuang. Visi harus terus dipegang. Karena jika hidup tanpa visi, lalu apa yang mau dilakukan selama hidup? Apa hanya berdiam sampai jiwa ini redup? Menghilang dalam tanah kubur yang tertutup?

Kalau dibilang menjaga motivasi itu sulit, maka itu benar sekali. 1000% benar sekali! Bahkan letak motivasi itu sendiri ada di qalbu (yang berbolak-balik) sehingga wajar bila kondisinya tidak bisa 100% stabil. Maka dari itu banyak dari kita yang bahkan berani membayar mahal untuk mendapatkannya kembali, meraihnya kembali untuk diserapkan lagi dalam dada agar muncul lagi energi untuk bergerak. Walaupun entah kapan suatu saat motivasi tersebut akan menguap kembali lalu kita rengkuh lagi begitu seterusnya. Andaikan kita punya sesuatu untuk membuatnya “tak mudah kabur” tentu akan sangat membantu. Banyak pilihan cara namun tak ada salahnya kita coba semuanya satu persatu. Banyak yang mengatakan salah satu caranya adalah memperkuat visi. Nah, di sini saya juga ingin membahas terkait visi tersebut sebagai tips. Hanya saja tipsnya bukan dalam bentuk memperkuat visi, namun justru hilangkan visimu.. hehe..

Kenapa harus dihilangkan visinya? Lebih tepatnya bukan dihilangkan sih, tapi sekedar alihkan pikiran dari visi tersebut. Berarti visinya masih ada? Iyalah.. mau hidup dengan cara apa kalau tidak punya visi? Tapi di sini yang saya tekankan adalah apabila visi itu ibarat garis finish dalam lomba lari dan kebetulan garis finishnya masih jauh, maka alangkah lebih baik kita berfokus alih-alih pada visi menjadi fokus pada “stamina” kita. Ya.. stamina.. stamina yang membuat kita terus kuat untuk berlari, terus bergerak melangkahkan kaki.

Mungkin saran ini bisa sangat membantu jika memang dibutuhkan. Namun andaikan dengan melihat visi/finish lebih menguatkan stamina maka itu berarti anda (atau kita) sangat luar biasa! Hehe.. apapun itu yang penting jangan sampai kehilangan visi kita. Karena siapapun yang tidak memiliki visi maka ia akan tersiksa dalam sebuah neraka dunia yang bernama KESESATAN.. waduhh..

Saat pagi adalah semangat dan senja adalah damai

Dada selalu merasa sesak dan mata mulai menghangat lantaran air yang melinang dari dalamnya manakala melihat (entah yang keberapa kalinya) video dari para korban konflik di Suriah maupun Palestina. Membayangkan rasa sakit pada tubuh yang terluka dan rasa sakit pada jiwa yang takkan lagi berjumpa dengan orang terkasih yang telah tiada. Mungkin rasa sakit kehilangan jauh lebih pedih. Takkan lagi melihat senyum bayi kita, ayah kita, ibu kita, istri kita, suami kita, dan semua orang tercinta.

Lalu harus dengan apa kita menyembuhkan lara yang menganga itu? Atau pada siapa kita harus mencurah ledakkan kesedihan yang telah mendesak sakit dada kita? Seandainya ada tangis yang membantu reda, tapi harus bagaimana manakala telah kering air mata? Sakit itu barangkali terasa berjuta hingga hampir tiada rasa.

Bagaimanapun mungkin ini adalah ujian mahadahsyat bagi saudara kita yang ketangguhan hatinya tiada kita kira. Ya Allah, Engkau telah memberikan takdir seperti ini. Takdir yang memanggil-manggil nurani manusia walau ujian kemanusiaan bukan dia yang merasa. Nurani yang selalu terpaut dengan manusia dengan irama iman yang sama.

Nun jauh di sini, yang terbentang jarak dengan bumi Palestina dan Suriah di sana, terhirup aroma tenteram dan bahagia. Masih banyak tawa di sini.. terlebih lagi canda. Betapa ingin sekali saudaraku yang di sana bisa merasakan apa yang aku rasa. Kala jenak telah menjadi berjuta. Saat pagi adalah semangat dan senja adalah damai.

Senin, 14 November 2016

Sekali Lagi Setia

Kata sebagian orang harga bisa berlaku sensitif pada kalangan kelas ekonomi bawah. Menurut mereka, sangat riskan jika harus mengambil keputusan menaikkan suatu harga. Salah satu resikonya adalah pada tingkat penjualan produk yang menurun. Konsumen, masih dari hemat mereka, cenderung akan mencari produk alternatif lain atau bahkan menahan pengeluaran. Masuk akal juga, walaupun hal ini tidak berlaku untuk produk strategis, seperti sembako dan bahan bakar minyak (BBM) di mana meski harga naik, mereka akan tetap berusaha mencari segala cara untuk membeli.

Latar belakang bahasan ini adalah ketika—lagi-lagi—saya berdiskusi dengan salah satu binaan mikro RZ Malang, yang memang sejak berpuluh tahun telah berjualan bakso pada kelas ekonomi menengah bawah alias dari kampung ke kampung. Beliau menyampaikan bahwa pilihan untuk menaikkan harga masih menjadi dilema meskipun kebutuhan bahan baku serba naik. Salah satu penyebab dilema tersebut tidak lain adalah pada kekhawatiran jika tingkat penjualan menurun atau malah tidak laku. Pilihan yang diambil tak jarang adalah tetap bertahan pada harga lama, dengan konsekuensi berkurangnya margin yang bisa dinikmati oleh pelaku usaha mikro. Sungguh amatlah berdarah-darah namanya. Berdarah-darah akan suatu hal yang sebenarnya belum ada landasan teori—yakni perihal hilangnya pelanggan karena harga naik—dimana bisa jadi semua itu ternyata cuma mitos.

Dewasa ini kita tentu menyadari bahwa dunia itu berubah. Baik dalam lingkup paling sempit hingga lingkup paling luas atau global. Salah satu perubahan itu adalah pada perilaku konsumen.

Berbicara terkait perilaku konsumen, rupanya saat ini banyak pelaku bisnis yang telah menyadari bahwa konsumen itu pada dasarnya cenderung setia. Sekali lagi setia. Pada apa? Pada produk, pada jasa, bahkan pada merek. Saking setianya, bahkan mereka rela menerima kenyataan harga barang kebutuhannya naik. Ternyata mereka sama sekali tidak sensitif pada harga. Kok bisa? Ya tentu bisa. Asal perusahaan atau pelaku usaha itu telah memberikan layanan yang terbaik bagi pelanggan. Yup, the best service. Tidak peduli apa konsumen ini dari kalangan ekonomi bawah atau kalangan ekonomi atas, pokoknya kalau sudah merasa mendapat the best service ini, sebagian besar ia akan lebih memilih setia.

Selanjutnya, pelaku usaha mikro tinggal melakukan action agar mitos itu segera runtuh. Bahwa orang kampung juga bisa setia. Entah itu pada produk bakso, soto, tahu sumedang, dan lain-lain. Harus yakin bahwa selama HARGA YANG KITA NAIKKAN ITU WAJAR dan mampu memberikan layanan terbaik, maka tidak perlu takut kehilangan pelanggan. Justru pelanggan-lah yang seharusnya takut kehilangan pelaku usaha yang the best seperti kita ini.. hehe..

Senin, 07 November 2016

Semua Tak Boleh Sama (Seri ke-2 Pemberdayaan Ekonomi)

Masih terkait dengan artikel sebelumnya yang membahas tentang “kapan kita harus berhutang?”, di sini saya ingin mengutarakan tentang satu hal yang umumnya dikenal dengan istilah memantaskan diri

Memantaskan diri, dalam konteks bisnis mikro, adalah satu dari sekian kaidah yang sejauh pengamatan saya banyak tidak diketahui oleh mereka yang bergelut di bisnis kaki lima. Padahal jika seseorang ingin merasakan perbaikan taraf hidup, sudah barang tentu ia harus berusaha supaya pantas untuk naik kelas. Alasannya? Karena tidak mungkin nasib berubah menjadi lebih baik jika seseorang melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Dulu maupun sekarang sama saja. Mulai dari cara menjual, cara memperlakukan karyawan, strategi operasional, dan semacamnya. Padahal tidaklah boleh semua sama. Mengacu pada anjuran Nabi Muhammad SAW, bahwa seseorang rugi jika keadaannya hari ini sama dengan hari kemarin.

Lalu apa hubungannya “memantaskan diri” dengan “kapan kita harus berhutang?” Untuk menjawab pertanyaan ini maka kita menggunakan ilustrasi pedagang soto yang merasa bahwa cara untuk membuat nasibnya lebih baik, menjadikan omsetnya lebih naik, adalah dengan strategi menambah gerobak bakso. Ia harus membuat dirinya pantas “mendapatkan lebih” dari sebelumnya. Nah, di titik inilah ia mulai bisa merasakan kebutuhan itu. Kebutuhan untuk memenuhi sarana usaha dengan cara berhutang.

Maka dari itu andai seseorang mengerti tujuan utama dari berhutang, sudah barang tentu ia akan menjadikan “kegiatan memantaskan diri” sebagai alasan utama di antara alasan-alasan lain. Supaya ia pantas mendapatkan rezeki yang lebih besar lagi. Agar usaha mikronya pantas mendapat omset usaha skala kecil. Lalu usaha kecilnya pantas mendapatkan take home pay usaha menengah, dan begitu seterusnya.